Langsung ke konten
Rabu, 2 September 2026
Warna Baru Informasi dan Berita - Portal Berita Multi Platform
KabarPapuaTengah.id Warna Baru Informasi – Portal Multi Platform Terpercaya
Video
Kembali
Berita
Sosial Budaya

Marjan Rumagesan: Sang Penjaga Nyala Tari di Tanah Papua

NABIRE — Menjelang pukul empat sore, rerumputan di tepi Lapangan Bandara Lama Nabire mulai bergoyang pelan diterpa angin yang mengangkut aroma tanah lembap dan sisa hujan siang tadi. Matahari belum sepenuhnya turun, tapi…

NABIRE — Menjelang pukul empat sore, rerumputan di tepi Lapangan Bandara Lama Nabire mulai bergoyang pelan diterpa angin yang mengangkut aroma tanah lembap dan sisa hujan siang tadi. Matahari belum sepenuhnya turun, tapi cahayanya sudah mulai memanjang, menyepuh warna jingga tipis di ujung langit.

Dari kejauhan, deru kendaraan sesekali melintas di jalan raya. Namun bunyi itu perlahan tenggelam, kalah oleh dentuman musik yang mulai memenuhi udara lapangan—bas yang menghentak, disusul suara peluit pendek yang memecah, tanda latihan segera dimulai.

Satu per satu anak dan remaja berdatangan. Sebagian masih berseragam sekolah, dasi tergantung longgar di leher. Sebagian lain sudah berganti kaus oblong dan sepatu olahraga yang solnya mulai menipis. Mereka datang dari berbagai suku, agama, dan latar belakang, tapi berkumpul di titik yang sama: sepetak rumput yang sudah menguning di beberapa bagian karena terlalu sering diinjak.

Di tengah lapangan berdiri seorang pria dengan peluit tergantung di leher. Usianya 46 tahun, tapi tubuhnya masih tegap seperti anak-anak yang dilatihnya. Ia hanya mengenakan kaus biasa—tanpa merek yang mencolok, tanpa jam tangan, tanpa gelang atau kalung yang lazim dipakai orang untuk menegaskan diri. Kulitnya kecokelatan, bekas bertahun-tahun berdiri di bawah matahari sore. Sesekali ia bertepuk tangan mengikuti irama, lalu menghitung dengan suara lantang yang menembus deru angin.

“Lima… enam… tujuh… delapan…”

Anak-anak bergerak serempak. Ada yang masih kaku, bahunya tegang seperti menahan sesuatu. Ada pula yang mulai luwes, tubuhnya mengalir mengikuti hitungan. Begitu ada yang salah posisi, pria itu bergegas menghampiri—tangannya membetulkan sudut siku, kepalanya sedikit dimiringkan mengoreksi arah pandangan, telapak kakinya menggeser pijakan yang keliru. Tidak ada bentakan. Yang terdengar hanya suara sabar, nyaris berbisik di tengah riuh musik.

Pria itu adalah Marjan Rumagesan, penari senior Papua yang selama lebih dari dua dekade mengabdikan hidupnya pada dunia tari.

Baginya, lapangan terbuka berdebu itu bukan sekadar tempat berlatih. Di sanalah, setiap sore, mimpi-mimpi anak muda Papua diam-diam tumbuh—dipupuk dengan hitungan delapan ketuk dan keringat yang menetes ke rumput.


Musik tiba-tiba berganti.

Dentuman gendang yang pelan mengawali sebuah tarian dari Aceh. Puluhan peserta segera duduk bersimpuh, membentuk barisan rapi. Kedua tangan mereka bersiap di atas paha, punggung tegak, mata menatap lurus ke depan.

Hitungan pertama terdengar lambat.

Tepukan tangan menyatu dengan hentakan dada—bunyi “plak” yang kering, disusul debam pelan telapak tangan menepuk dada. Tubuh bergoyang serempak ke kanan, lalu ke kiri. Wajah-wajah muda itu tampak serius, rahang sedikit terkatup, menjaga agar gerakan tak ada yang mendahului.

Beberapa menit kemudian, tempo musik meningkat.

Semakin cepat.

Semakin rapat.

Tepukan tangan bersahut-sahutan seperti hujan deras menghantam atap seng. Kepala bergerak bergantian ke kanan dan ke kiri, secepat kedipan. Tak satu pun peserta boleh terlambat sepersekian detik—kesalahan sekecil apa pun akan langsung terlihat, tenggelam di antara puluhan gerakan lain yang serentak.

Dari pinggir lapangan, latihan itu jadi tontonan yang memikat. Yang membuatnya menarik bukan cuma kekompakan gerakan, tapi siapa yang menarikannya: anak-anak Papua, Jawa, Bugis, Ambon, Batak, Toraja, Minang, dan berbagai suku lain yang tinggal di Nabire, menari tarian Aceh dengan semangat yang sama rata. Seolah asal-usul mereka melebur begitu saja dalam satu hitungan delapan ketuk.

Bagi Marjan, mempelajari tarian dari berbagai daerah bukan berarti melupakan budaya Papua. Justru dengan mengenal budaya Nusantara, anak-anak belajar menghargai keberagaman—sekaligus, katanya, semakin mencintai budaya mereka sendiri.

Musik kembali berganti.

Kali ini iramanya lebih cepat dan riang. Bunyi tifa berpadu dengan hentakan musik ala Maluku, membuat suasana latihan berubah jadi lebih hidup. Anak-anak melompat kecil, mengayunkan tangan, berpindah formasi dengan langkah tegas. Sekilas, koreografinya mengingatkan pada tarian koboi di film-film Barat—putaran badan yang cepat, langkah kaki yang kompak, ekspresi ceria yang membuat beberapa orang yang lewat berhenti sejenak, ikut tersenyum menyaksikan.

Sesekali terdengar gelak tawa ketika ada peserta yang terlambat mengikuti gerakan.

Marjan hanya tersenyum.

“Ulang lagi dari awal.”

Musik diputar kembali. Tidak ada wajah kesal. Semua kembali mencoba, seolah kalimat itu bukan teguran, melainkan ajakan untuk mencoba sekali lagi.

Begitulah latihan berlangsung—hampir setiap sore, sampai matahari benar-benar tenggelam.


Kecintaan Marjan pada tari tumbuh sejak ia masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Dari situlah ia mulai mengenal gerak, irama, dan panggung—dunia kecil yang lama-kelamaan menjadi jalan hidupnya.

Kemampuannya yang terus diasah membawanya bergabung dengan Sanggar Teutemini. Di sana ia mempelajari tari tradisional Papua, tari kreasi, Yospan, hingga berbagai tarian Nusantara lainnya.

Pada 2005, ia mendapat kesempatan mengikuti kontrak pertunjukan seni budaya di Taiwan. Selama hampir dua tahun ia memperkenalkan budaya Indonesia di negeri orang, menari di panggung-panggung yang jauh dari rumah. Pengalaman itu memperluas wawasannya, tapi tidak mengubah arah tujuannya.

Sepulang ke Nabire pada 2006, ia memilih kembali.

Bukan untuk mencari panggung yang lebih besar.

Melainkan untuk membangun panggung bagi generasi berikutnya.

Pada 2010, ia mendirikan Angker Wisdom Dance Group. Sanggar itu menjadi rumah bagi anak-anak dan remaja yang ingin belajar tari tradisional Papua, tari kreasi, kontemporer, modern dance, hingga berbagai tarian Nusantara.

Di tahun yang sama, ia juga mulai bekerja sebagai tenaga honorer di Sekretariat Daerah Kabupaten Nabire. Ia mengabdi di sana hingga 2022, sebelum akhirnya diberhentikan. Dua tahun kemudian, pada 2024, ia kembali mengabdi setelah diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Namun apa pun status pekerjaannya, sore hari tetap menjadi milik dunia tari.

Awalnya latihan dilakukan di rumahnya di kawasan Wadio. Tapi banyak peserta kesulitan datang karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota—beberapa harus berjalan kaki cukup lama, sebagian lagi menunggu tumpangan yang tak selalu ada.

Marjan lalu memindahkan latihan ke Lapangan Bandara Lama Nabire, tempat yang lebih mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota.

Keputusan sederhana itu membuat jumlah peserta terus bertambah.

Yang tidak pernah berubah adalah satu hal.

Semua latihan diberikan secara cuma-cuma.

Sore itu, sekitar 40 anak dan remaja hadir mengikuti latihan. Namun menurut Marjan, jumlah itu belum seberapa dibanding hari-hari biasa—biasanya, katanya, peserta yang datang bisa mencapai 60-an orang.

Tidak ada biaya pendaftaran.

Tidak ada iuran bulanan.

Bahkan, ketika ada peserta yang tidak punya kendaraan untuk pulang, Marjan bersama istrinya, Maryam Ngangun, rela merogoh kantong sendiri untuk mengantar mereka sampai ke rumah masing-masing—kadang menembus jalan yang sudah gelap, dengan bensin yang mereka beli dari uang mereka sendiri. Rumah-rumah itu tak selalu dekat. Sebagian peserta tinggal jauh di luar kota, sampai ke Samabusa, sekitar 27 kilometer dari pusat Nabire—jarak yang, bagi keluarga ini, tak pernah jadi alasan untuk menolak mengantar.

Bagi Maryam, mengantar anak-anak pulang bukan sekadar bentuk bantuan sesekali. Ia dan Marjan berbagi satu keyakinan yang sama: bahwa anak-anak dan pemuda Papua harus tetap mendapat bimbingan, apa pun kondisinya—jauh atau dekat, ada kendaraan atau tidak, hujan atau terik. Keyakinan itulah yang membuat keduanya berjalan seiring, bukan sekadar suami yang melatih dan istri yang menunggu di rumah.

Sering kali, uang, waktu, dan tenaga habis untuk kepentingan sanggar.

Tapi Marjan tak pernah menghitungnya sebagai kerugian.

Selama lebih dari dua dekade berkarya, ia tidak pernah menjadikan seni tari sebagai jalan mencari kekayaan. Ia juga tak pernah menjadikan kemampuannya menari sebagai batu loncatan untuk memperoleh pekerjaan atau jabatan.

Seni, baginya, adalah bentuk pengabdian.

Yang ia cari bukan materi, melainkan rasa puas ketika melihat anak-anak berani tampil, mencintai budaya, dan menemukan jati diri mereka sendiri.


Perlahan, hasil itu mulai terlihat.

Anak-anak yang semula pemalu mulai berani menatap lawan bicara. Mereka yang sulit bergaul belajar bekerja sama dalam satu barisan. Mereka yang mudah menyerah belajar bertahan sampai hitungan kedelapan, meski napas sudah tersengal.

Di sanggar itu, perbedaan suku, agama, dan ras bukan lagi sekat. Justru jadi kekuatan yang mengikat mereka dalam satu irama yang sama.

Salah seorang peserta, Demel, siswi kelas VI SD Advent Nabire, duduk di rerumputan sambil mengatur napas usai latihan. Keringat masih membasahi keningnya, tapi senyumnya tak hilang saat bicara soal sanggar ini.

“Saya senang menari. Di sini saya punya banyak teman dari berbagai suku dan agama. Kami latihan bersama dan saling mendukung,” katanya.


Menjelang pukul enam sore, matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Langit Nabire berubah jingga tua, lalu keunguan. Musik berhenti. Anak-anak duduk melingkar di rumput, tertawa, mengusap keringat yang mulai mengering di wajah mereka, sesekali menepuk nyamuk yang mulai berdatangan seiring gelap.

Marjan memandangi murid-muridnya dengan senyum puas—senyum yang sama seperti sore-sore sebelumnya, dan mungkin akan sama lagi esok hari.

Ia berharap semakin banyak anak Papua mencintai seni, bangga pada budayanya, dan berani berkarya.

Kelompok tari yang dibinanya siap tampil di berbagai kegiatan: peringatan Hari Kemerdekaan, acara pemerintah, pesta rakyat, syukuran, perpisahan sekolah, hingga festival budaya. Namun baginya, panggung hanyalah tempat memperlihatkan hasil latihan.

Pengabdian yang sesungguhnya terjadi setiap sore, saat ia memilih hadir, mengajar, mendampingi, dan menyalakan harapan—tanpa pernah meminta imbalan.

Lapangan mulai lengang. Langit semakin gelap. Satu per satu anak pulang membawa tawa dan semangat baru, meninggalkan jejak kaki di rumput yang basah oleh keringat mereka sendiri.

Marjan menjadi orang terakhir yang meninggalkan lapangan.

Di balik langkahnya yang pelan menyusuri rumput yang mulai basah oleh embun, tersimpan satu keyakinan yang tak pernah berubah.

“Saya akan tetap berkarya sampai akhir hayat.”

Kalimat itu bukan sekadar penutup wawancara.

Itulah cara hidup Marjan Rumagesan—seorang pelatih yang memilih menjaga nyala tari di Tanah Papua, agar tak pernah padam di hati generasi penerus.



Reportase Wendy Eko Suswinarko

Tanggal : 24 Juli 2026

Lokasi : Nabire, Papua Tengah.

☕ Atau scan QRIS di bawah untuk kirim kopi — berlaku semua aplikasi e-wallet & m-banking.

QRIS Kabar Papua Tengah
Galeri Foto
Ditulis oleh
Redaksi

Komentar Pembaca (0)

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadilah yang pertama berkomentar.