Langsung ke konten
Rabu, 2 September 2026
Warna Baru Informasi dan Berita - Portal Berita Multi Platform
KabarPapuaTengah.id Warna Baru Informasi – Portal Multi Platform Terpercaya
Video
Kembali
Berita
Pendidikan

Bedah Buku dan Launching Dua Buku Sejarah Pendidikan Papua Digelar di Nabire

NABIRE – Yayasan Karya Adi Luhur menggelar kegiatan bedah buku sekaligus peluncuran dua buku bertema sejarah pendidikan Papua di Aula SMA YPPK Adhi Luhur, Nabire, Papua Tengah, Selasa (14/7/2026).Kegiatan tersebut dihadiri oleh…


NABIRE – Yayasan Karya Adi Luhur menggelar kegiatan bedah buku sekaligus peluncuran dua buku bertema sejarah pendidikan Papua di Aula SMA YPPK Adhi Luhur, Nabire, Papua Tengah, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh komite sekolah, tokoh pendidikan, guru, pelajar, serta sejumlah tamu undangan. Selain memperkenalkan dua karya terbaru, acara juga menjadi ruang diskusi mengenai perjalanan pendidikan di Tanah Papua dan pentingnya pelestarian sejarah melalui budaya literasi.


Dua buku yang diluncurkan berjudul “Kisah-Kisah Guru Perintis dari Pedalaman Papua Era 1962–1980” dan “Hati yang Menyala di Ufuk Timur: Sekolah Kesadaran ala Jesuit.” Buku pertama mendokumentasikan perjuangan para guru perintis dalam membangun pendidikan di wilayah pedalaman Papua, sedangkan buku kedua mengulas sejarah pendidikan Jesuit yang berfokus pada pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan semangat pelayanan.


Penulis buku, Pastor Yohanes Sudriyanto, S.J., mengatakan buku mengenai guru perintis disusun sebagai upaya mewariskan karakter dan metode pendidikan para guru yang telah berjasa membangun pendidikan di Papua.
“Melalui buku ini kami berharap karakter dan pedagogi guru-guru perintis dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dan menjadi pembelajaran, tidak hanya bagi Papua, tetapi juga Indonesia,” ujarnya.


Ia juga menjelaskan bahwa buku tentang pendidikan Jesuit merekam sejarah panjang karya para Jesuit di Papua, mulai dari pembukaan sekolah pertama pada tahun 1894 hingga pengiriman kembali guru-guru perintis setelah integrasi Papua dengan Indonesia pada tahun 1963.


Menurut Yohanes, Papua memiliki warisan sejarah pendidikan yang sangat kaya. Namun, masih banyak pengalaman para guru perintis yang belum terdokumentasikan dan perlu dituangkan dalam karya-karya berikutnya agar tidak hilang ditelan zaman.
Budaya literasi sendiri menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. UNESCO menempatkan literasi sebagai fondasi bagi pengembangan kemampuan berpikir kritis, peningkatan mutu pendidikan, serta kemajuan masyarakat.


Melalui kegiatan ini, Yayasan Karya Adi Luhur berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mengenal sejarah pendidikan Papua sekaligus terdorong untuk mengembangkan budaya membaca dan menulis.

Uswatun Hasanah – Richardo Kedeikoto melaporkan.

☕ Atau scan QRIS di bawah untuk kirim kopi — berlaku semua aplikasi e-wallet & m-banking.

QRIS Kabar Papua Tengah
Galeri Foto
Ditulis oleh
Redaksi

Komentar Pembaca (0)

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadilah yang pertama berkomentar.