Dari teras rumahnya di Karang Mulia, Nabire, Wendy Eko Suswinarko mengajar tanpa gaji, menyalakan mimpi anak-anak Papua, dan mewariskan satu hal yang paling sulit dijaga di tanah yang penuh godaan: harga diri.
NABIRE – Siang itu, teras sebuah rumah di Kelurahan Karang Mulia, Nabire, tak pernah benar-benar sepi. Sebuah baterai lithium berwarna biru terbuka di atas meja. Seorang siswa SMK mengukur tegangannya dengan multitester, sementara yang lain membungkuk di depan layar komputer, menyunting video liputan. Di sudut teras, kamera-kamera siaran tergantung berdampingan dengan panel surya, gulungan kabel, dan rangkaian elektronik yang belum selesai dirakit.
Di tengah kesibukan itu, Wendy Eko Suswinarko menghentikan sejenak percakapannya. “Jangan sambung dulu kabel positifnya. Pastikan semua sel baterainya seimbang,” katanya kepada seorang siswa, yang mengangguk dan kembali bekerja.
Bagi yang baru pertama kali datang, teras itu mungkin tampak seperti bengkel teknologi biasa. Tapi bagi hampir seratus siswa SMK yang pernah singgah sejak 2012, tempat ini adalah sekolah yang tak pernah memasang tarif. Tak ada papan nama. Tak ada ruang administrasi. Tak ada honor mengajar. Program itu dulu lahir di rumah ini juga, lalu berpindah enam tahun ke studio NabireTV ketika produksinya berkembang, sebelum kembali menetap di teras yang sama, tempat siang ini kembali dipenuhi remaja berseragam abu-abu.
“Saya tidak pernah minta bayaran, apalagi minta digaji atas didikan saya kepada siswa SMK,” katanya. “Saya bersyukur kalau mereka jadi mandiri, sukses, bahkan berjaya di kemudian hari. Itu kepuasan dan kebanggaan yang tak ternilai.” Kalimat itu meluncur tanpa dibuat-buat, seolah ia sedang mengucapkan sesuatu yang sangat biasa—barangkali karena prinsip itu memang sudah menjadi bagian dari hidupnya, jauh sebelum teras ini dipenuhi suara solder dan bor listrik. Untuk memahami dari mana prinsip itu berasal, perlu menengok jauh ke belakang, ke sebuah rumah kecil di Jalan Pemuda.
Anak Seorang Polisi
Jauh sebelum itu, ada seorang anak kecil yang tumbuh di Jalan Pemuda, Nabire—di sebuah rumah yang dibangun ayahnya, Pardi, dengan tangannya sendiri, semasa masih menjadi polisi bujang.
Subuh-subuh, Wendy kecil berkeliling mencari mangga jatuh di kebun tetangga. Bukan karena lapar, melainkan karena ingin punya uang jajan hasil usahanya sendiri. Tetangga-tetangganya, kebanyakan keluarga asli Papua, bukan cuma membiarkannya memungut mangga—mereka bahkan mengusir anjing peliharaan sendiri agar bocah itu leluasa bekerja. Mangga-mangga itu dititipkan di warung sekolah, dan hasilnya, delapan ratus rupiah sehari, cukup untuk pisang goreng, es lilin, bahkan masih tersisa untuk ditabung.
Rasa ingin tahu yang sama juga tumbuh ke arah lain, dan dengan cara yang tak biasa. Saat teman-temannya bermain layang-layang, Wendy justru membongkar radio tape Sony milik ayahnya, penasaran apakah benar ada manusia kecil di dalam kotak yang bisa bersuara itu. Yang ia temukan hanya papan sirkuit dan kabel—tapi sejak hari itu, rasa penasarannya pada teknologi tak pernah padam, dan terus mencari jalan keluar dengan cara yang makin nekat. Kelas enam SD, ia mengirim uang tunai lewat amplop biasa ke Jakarta demi sebuah kit piano dari majalah Bobo, dan entah keajaiban apa, paketnya sampai. Rasa penasaran itu terus tumbuh sampai ke bangku SMA, ketika ia merakit pemancar FM kecil yang sinyalnya terpantau sampai Samabusa, membuat pegawai RRI datang menitipkan kaset untuk diputar.
Sosok yang paling membentuk hidupnya, di sela semua keisengan teknis itu, bukan seorang guru, melainkan ayahnya sendiri.
Suatu malam, dari balik pagar rumah itu, Wendy kecil mendengar suara berbisik. Seorang anggota polisi datang membawa kantong plastik, memohon agar dibantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya.
Pardi menolak. “Bawa pulang itu. Besok urusannya di kantor.”
“Wen, kamu masih kurang, kah? Bapak segini aja sudah bersyukur. Bisa nguliahkan kamu, adikmu dua. Sudah cukup.”
Pardi, ayah Wendy, menjawab mengapa ia menolak amplop di malam itu
Malam itu, Wendy memahami sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang. Integritas bukan sesuatu yang diajarkan lewat ceramah. Integritas ditunjukkan lewat pilihan-pilihan kecil yang sering kali tak diketahui siapa pun.
Prinsip yang sama juga terlihat dari cara keluarga itu menjalani hidup sehari-hari, jauh dari kemewahan. Sejak SMP hingga SMA, Wendy bersama saudara-saudaranya ikut mencetak batako sebelum berangkat sekolah—pukul lima pagi mereka sudah mengaduk pasir dan semen di belakang rumah, tangan yang seharusnya memegang buku pelajaran justru lebih dulu memegang cetakan batako. Bukan untuk dijual, tapi untuk membangun rumah kontrakan milik keluarga mereka sendiri, batu demi batu, dari keringat sendiri.
Pardi tak pernah mengajarkan teori tentang kerja keras. Ia mengajak anak-anaknya bekerja. Ia tak pernah menjelaskan makna harga diri. Ia memperlihatkannya.
Mimpi yang Kandas, Jalan yang Berbelok
Prinsip hidup sederhana itu, pada akhirnya, juga yang membentur mimpi pertama Wendy. Mimpinya jadi pilot kandas ketika dua karung brosur sekolah penerbangan dari Australia yang ia minta sendiri berbalas satu kalimat ayahnya: “Uang yang mana, Wen?” Ia tahu gaji seorang polisi tak mungkin menutup biaya sebesar itu, tapi tetap saja ada bagian dari dirinya yang harus belajar menelan kecewa dalam diam. Ia menuruti saran ayah kuliah Teknik Sipil, meski diam-diam juga mendaftar Teknik Elektro. Setelah IPK-nya jatuh di bawah 2,0 dua semester kemudian, ia akhirnya pindah ke Elektro di Universitas Brawijaya, dan tetap tamat bersamaan dengan teman-teman seangkatannya di Sipil.
Selama masa kuliah yang berliku itu pula, Wendy belajar untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada orang tua. Di Malang, ia ngekos di Jalan Mertojoyo, Dinoyo, sampai suatu hari meminta Bapak berhenti mengirim uang bulanan. “Aku bisa cari sendiri,” katanya—yang kemudian ia buktikan dengan memodifikasi IC mesin telepon kartu menjadi IC penggandaan, membuka jasa isi ulang kartu telepon dengan harga separuh dari kartu baru. Dua kali ia tertangkap patroli polisi yang mengintai box telepon; dua kali pula ia dilepaskan begitu menyebut nama ayahnya. “Pak Pardi.” “Yang gemuk-gemuk itu ya? Saya kenal dia!” Hanya kartu isi ulang kecil yang dikembalikan, sisanya disita.
Gelar sarjana di tangan, jalan hidupnya justru berbelok jauh dari bayangan siapa pun: ke Jayapura sebagai mandor sumur bor, lalu ke Jakarta sebagai supervisor sistem komunikasi Motorola—dua pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan gelar tekniknya, sebelum akhirnya panggilan pulang datang dengan cara yang paling tidak terduga.
Delapan Belas Nama yang Hilang
Namanya sempat hilang dari pengumuman kelulusan CPNS 2004—begitu pula nama adiknya, Welly—tanpa penjelasan apa pun.
Pada 2005, ketika ia di Jakarta, telepon dari ayahnya mengubah arah hidupnya: ada sesuatu yang tidak beres dengan hasil seleksi itu. Nama Wendy dan adiknya sebenarnya tercantum dalam dokumen asli, tapi hilang dari pengumuman resmi.
Ia pulang. Sedikit demi sedikit ia menelusuri nama-nama lain yang mengalami nasib serupa—satu nama, dua nama, hingga akhirnya terkumpul delapan belas orang. Di balik delapan belas nama itu, Wendy melihat sesuatu yang lebih besar: delapan belas dapur yang terancam padam, delapan belas rumah tangga—suami, istri, dan anak-anak—yang sumber penghasilannya sempat hilang begitu saja.
Ia tak mendatangi rumah pejabat itu bersama kerumunan. Ia hanya datang bersama seorang teman, membawa jerigen bensin dan bukti-bukti yang telah dikumpulkan.
“Bapak tinggal pilih. Ngaku dan perbaiki, atau saya bakar rumah ini. Saya tidak punya jabatan. Tapi saya punya kebenaran.”
Wendy, kepada pejabat yang bertanggung jawab atas hilangnya 18 nama dari daftar CPNS
Ketika kantor kepegawaian hanya memberi memo prioritas yang ditulis abu-abu dan tak tegas, ia merobeknya di depan semua orang. Memo itu direvisi.
Setahun setelah telepon dari Bapak, tahun 2006, Wendy dinyatakan lulus CPNS—bersih, tanpa uang, tanpa kedekatan. Baginya, kemenangan itu bukan sekadar memperoleh pekerjaan, melainkan bukti bahwa kebenaran masih layak diperjuangkan.
“Akhirnya kamu berdiri di atas kakimu sendiri, Wen,” kata Pardi saat melihatnya berseragam PNS di tanah kelahirannya sendiri.
Dari Gempa Nabire ke Layar Nasional
Status PNS memberinya kepastian. Tapi jalan hidup lain, yang sudah tumbuh diam-diam sejak sebelum kelulusan itu, justru yang akan membawanya lebih jauh. Sebuah kamera video yang dibelinya menjelang wisuda membuka pintu menuju dunia jurnalistik—dan gempa besar Nabire, 26 November 2004, menjadi titik awalnya. Dengan tangan gemetar ia menyusuri reruntuhan, merekam sambil menahan air mata, dan rekaman itu kemudian dipakai SCTV untuk tayangan nasional.
Dari satu rekaman itu, jalan berikutnya terbuka satu demi satu. Ia menjadi kontributor MetroTV dan Metro Papua TV hingga 2012, lalu bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Intan Jaya selama sembilan tahun, memproduksi program yang tayang di MetroTV dan Trans7. Ia merekam bukan hanya bencana, tapi juga wajah lain Papua: kehidupan masyarakat, budaya, pembangunan, harapan.
Rekam jejak itu pula yang membuat Bupati Nabire Isaias Douw memintanya, pada 2013, mendirikan televisi lokal. Lahirlah NabireTV—yang studionya kemudian, selama enam tahun, menjadi ruang kelas dadakan bagi siswa-siswa magangnya, sebelum semuanya kembali ke teras rumah tempat ia mengajar hari ini. Dari rahim yang sama lahir pula Visi Rekatama, rumah produksi yang pada 2024 memproduksi empat debat kandidat bupati sekaligus, dengan standar nasional, dari Nabire.
Di antara semua pencapaian itu, ada satu babak yang paling ia kenang bukan karena besarnya, melainkan karena nekatnya: pada hari pencoblosan Pilpres 2014, insting jurnalistiknya membawanya dari kampung ayahnya di Magetan—naik ojek, kereta, pesawat—hingga menyelip di antara puluhan jurnalis dan bersalaman langsung dengan Joko Widodo, disiarkan langsung, ditonton orang tuanya yang menangis histeris di depan televisi.
Starlet 1995 dan Rumah Tanpa PLN
Kegelisahan yang sama—rasa tidak puas hanya jadi penonton perubahan—juga yang mendorongnya ke bidang yang jauh dari kamera. Sejak 2015, di sela kesibukannya, Wendy mulai serius merakit sistem penggerak listrik, jauh sebelum kendaraan listrik jadi topik populer di Indonesia. Saat menempuh S2 di Politeknik Negeri Malang, 2020, ia akhirnya mewujudkan mimpi itu: sebuah Toyota Starlet 1995 diubah jadi mobil listrik pertama buatan tangan anak Papua.
“Yang paling saya ingat bukan kecepatannya, tapi keheningannya. Untuk pertama kalinya saya mengendarai sesuatu yang tidak menuntut apa-apa dari bumi selain matahari dan kesabaran.”
Wendy, tentang mobil listrik rakitannya
Dari keheningan mobil listrik itu, gagasannya melompat lebih jauh lagi: lahirlah Rumah Mandiri Energi, konsep yang ia pelopori sejak 2020—rumah tinggal yang berdiri penuh di atas panel surya dan baterai penyimpanan sendiri, tanpa PLN—sekaligus menghidupkan layanan internet Starlink di daerah-daerah yang dulu gelap dan sunyi.
“Mereka”
Ketika ditanya pencapaian terbesar dalam hidupnya, Wendy justru menggeleng. Ia menunjuk para siswa yang masih sibuk bekerja di teras rumahnya.
“Mereka.”
Jawaban itu singkat. Tapi cukup menjelaskan seluruh perjalanan hidupnya. Selama bertahun-tahun, hampir seratus siswa SMK pernah belajar di tempatnya—ada yang belajar jurnalistik, elektronika, panel surya, jaringan internet, hingga teknologi kendaraan listrik. Sebagian kini menjadi guru SMK, wartawan, anggota DPRD provinsi, polisi, hingga fotografer dan videografer sukses. Beberapa bahkan direkrut kembali untuk bekerja bersamanya. Dan setidaknya dua di antaranya kini benar-benar menerbangkan pesawat—lulus sekolah pilot di Amerika Serikat, berbekal surat rekomendasi praktik kerja dari bengkelnya sendiri.
Mimpi yang dulu kandas di tangannya sendiri—dua karung brosur dari Australia yang tak pernah bisa ia bayar—kini justru diwujudkan oleh murid-muridnya. Ilmu yang berpindah tangan, itulah yang paling membahagiakannya.
Sore mulai turun di Karang Mulia. Satu per satu siswa merapikan peralatan. Wendy berdiri di depan pintu rumahnya, tatapannya mengikuti langkah mereka hingga menghilang di tikungan jalan. Barangkali mereka tak akan mengingat semua rumus kelistrikan yang diajarkan hari itu. Tapi ada satu pelajaran yang kemungkinan akan tinggal jauh lebih lama: bahwa hidup tidak diukur dari berapa banyak bayaran yang diterima, melainkan dari seberapa banyak manfaat yang ditinggalkan.
Namun narasi sehangat ini juga layak ditanyai lebih jauh. Model mengajar tanpa gaji selama lebih dari satu dekade—betapapun mulianya—bertumpu pada satu orang yang bersedia menanggung biayanya sendirian, tanpa pernah benar-benar dilembagakan oleh sekolah atau pemerintah daerah yang semestinya turut menopang pendidikan kejuruan di Nabire. Satu pertanyaan yang belum terjawab dalam liputan ini tetap menggantung: apa yang akan terjadi pada teras Karang Mulia, dan pada murid-murid yang bergantung padanya, jika suatu hari Wendy tak lagi sanggup membiayainya sendiri?
Pertanyaan itu tak punya jawaban pasti hari ini. Yang pasti, di rumah yang sama, ada tiga anak yang kelak akan mewarisi bukan hanya teras dan peralatannya, tapi juga cara pandang yang membentuknya.
Kepada Astrid, Athaya, dan Hanan
Ketika ditanya apa yang ingin diwariskan kepada ketiga putrinya, Wendy tidak menyebut rumah, tabungan, ataupun kendaraan. Ia hanya ingin mewariskan apa yang dulu diwariskan ayahnya. Nilai. Kejujuran. Integritas. Keberanian untuk berdiri di pihak yang benar meskipun harus berjalan sendirian.
Senja jatuh perlahan di atas Karang Mulia. Rumah itu kembali lengang. Namun yang sedang tumbuh dari teras sederhana itu bukan sekadar keterampilan merakit baterai, menyunting video, atau memasang panel surya—yang sedang tumbuh adalah warisan seorang polisi bernama Pardi, yang memilih untuk tidak bisa dibeli, dan diteruskan anaknya kepada murid-muridnya, dan suatu hari nanti, kepada anak-anak mereka.
“Saya bukan siapa-siapa,” kata Wendy pelan, mengangkat solder yang mulai dingin di tangannya. “Tapi saya tidak bisa dibeli.”
☕ Atau scan QRIS di bawah untuk kirim kopi — berlaku semua aplikasi e-wallet & m-banking.

Komentar Pembaca (0)
Jadilah yang pertama berkomentar.